Sungai Cisadane Kota Tangerang dalam Jejak Sejarah Warga Tionghoa dari Catatan Sejarah

photo author
- Senin, 23 Januari 2023 | 13:01 WIB
Sejarah Cisadane bagi warga Tionghoa (foto:Tangkapan layar youtub chanel @TheStory)
Sejarah Cisadane bagi warga Tionghoa (foto:Tangkapan layar youtub chanel @TheStory)

TOPMEDIA - Tahun Baru Imlek bagi orang Tionghoa dimulai dari hari pertama bulan pertama di penanggalan Tionghoa dan berakhir pada tiap Go Meh tanggal ke-15 Tahun.

Menurut berbagai sumber di area Sungai Cisadane Kota Tangerang konon terdapat benteng besar yang berdiri di tepian menyaksikan derasnya aliran sungai namun kini benteng tersebut punah dimakan zaman yang kadang terlalu kejam mengikis secara perlahan.

Inilah awal cerita yang menjadikan sebutan Cina benteng untuk peranakan Tionghoa yang menetap di Tangerang.

Dinasti Qing, yang memerintah China selama tiga ratus tahun sejak 1644, kandas di tahun 1912, namun warisannya terus abadi hingga kini. Tapi, bukan di China, melainkan di tepi Sungai Cisadane.

Baca Juga: Usai Kalahkan Inter Milan, Garuda Select akan Tantang Klub Milik Silvio Berlusconi

Alkisah, menurut kitab sejarah Sunda yang berjudul Tina Layang Parahyang atau Catatan dari Parahyangan, keberadaan komunitas Tionghoa di Tangerang dan Batavia sudah ada sejak tahun 1407, atau awal abad ke-15.

Kitab itu menceritakan tentang mendaratnya rombongan pertama dari dataran Tiongkok yang dipimpin Tjen Tjie Lung alias Halung di muara Sungai Cisadane, yang sekarang berubah nama menjadi Teluk Naga.

Mereka datang menggunakan perahu sederhana untuk menjadi petani, buruh, pekerja, dan pedagang. Namun, hanya sedikit yang tahu bahwa mereka berasal dari Dinasti Qing alias bangsa Manchu.

Tidak datang tiba-tiba, bangsa Manchu menepi di Indonesia karena bekerjasama dengan Belanda. Mereka datang bersama-sama dengan kapal dagang Belanda, datang dengan motivasi mendapat penghasilan yang lebih layak dengan menjadi buruh, pedagang, dan banyak juga yang menjadi tentara kolonial Belanda.

Baca Juga: Polda Banten Buka Banyak Lowongan Pekerjaan tahun 2023, Ini Persyaratannya

Pada waktu itu, tepi Cisadane sudah dikuasai Belanda. Di bantaran sungai itu dibangun benteng, yang sekaligus menjadi pertahanan terdepan Belanda di Pulau Jawa.

Catatan Donald E. Willmott dalam buku The National Status of the Chinese in Indonesia 1900-1958, menyebut, kedatangan bangsa Manchu di Cisadane, merupakan proyek pemerintah kolonial Belanda yaitu One harmony between 3 races, under one loyalty to the Dutch Colonial Empire.

Melalui proyek itu, pemerintah kolonial ingin menggabungkan tiga bangsa yaitu Tionghoa, Belanda dan Sunda-Betawi, menjadi satu etnis dengan komposisi 50 persen Tionghoa, 37,5 persen Sunda-Betawi dan 12,5 persen Belanda. Harapannya satu, ‘ras baru’ tersebut hanya akan loyal terhadap pemerintah Belanda.

Misi Belanda berhasil, di tepi Sungai Cisadane memang ‘lahir’ suku baru. Namun, bukan setia pada Belanda, mereka mencipta kesetiaan terhadap suku mereka sendiri, yang kini dikenal dengan nama Tionghoa Benteng.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Beni Hendriana

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X