Orasi Budaya Banten XXII, Dibutuhkan Pemimpin Ideal

photo author
- Rabu, 5 Oktober 2022 | 15:34 WIB
Forum Ekonomi Kreatif (Fekraf) Banten bersama Fesbuk Banten News (Fbn) menggelar kegiatan Orasi budaya dalam rangka memperingati HUT Banten yang ke 22 (Febi Sahri Purnama)
Forum Ekonomi Kreatif (Fekraf) Banten bersama Fesbuk Banten News (Fbn) menggelar kegiatan Orasi budaya dalam rangka memperingati HUT Banten yang ke 22 (Febi Sahri Purnama)

"Saya banyak menemui di kalangan para ASN di provinsi Banten ini masih sangat banyak yang jual beli jabatan, ini seharusnya tidak boleh terjadi, karena dampaknya akan sangat buruk bagi pembangunan provinsi Banten, jauh dari kata profesional pada akhirnya, jika para pejabat kita masih berkutat pada urusan jual beli jabatan. Dan ini akan mengakibatkan pembangunan di provinsi Banten akan menjadi stagnan," kata uday dalam orasinya.

Baca Juga: 3 Film Diperankan Oleh Minamo San Artis Jepang TerHot, Cara Nonton Beserta Link Nonton! Ada Adegan Panas Loh

Di giliran berikutnya, Saprol, selaku Ketua Pokja wartawan provinsi Banten ikut angkat bicara. Ia menambahkan, kritik dan merasa tidak puas dengan pemimpin-pemimpin yang pernah memimpin provinsi Banten. 

Lanjut Saprol, pembangunan yang tidak mengedapankan sense of cirisis, pria yang dikenal sebagai jurnalis kritis ini menyampaikan bahwa pembangunan Banten Internasional Stadium hanya menembah beban utang provinsi. 

"Banten internasional stadium itu sangat membebankan APBD provinsi Banten, Bangunan yang di bangun dengan cara berhutang itu hanya menjadi bangunan yang sangat ekslusif dan tidak bisa dinikmati oleh masyarakat Banten secara umum, bahkan setelah bangunan itu jadi, setiap tahunnya provinsi Banten harus mencicil pembayaran hutang dari bangunan itu, ini menjadi beban yang sangat berat bagi provinsi Banten," jelas Saprol dalam orasinya.

Baca Juga: Masa Jabatan 2 Komisaris Bank Banten Berakhir, Ketua KAPT: Terjadi Kekosongan Jabatan

Lain lagi dengan pandangan seorang akademisi, Firman Hadiansyah, Akademisi Untirta dalam kesempatan orasinya menyampaikan nilai-nilai historis yang harus di refleksikan oleh provinsi di umur yang ke 22 ini. 

Di dalam Babad Banten pupuh sinom 22 tertulis "gawe kuta baluwarti, bata kalawan kawis" yaitu membangun peradaban dari bata dan karang. 

"Dalam kaca mata semiotika, bata merepresentasikan budaya agraris sementara karang simbol maritim. Artinya Babad Banten tersebut mengajarkan keseimbangan. Jadi pembangunan Banten tidak akan bisa berhasil jika tidak seimbang antara pembangunan agraris dan pembangunan maritim nya," kata pria yang belum lama dianugrahi ASN inspiratif nasional dalam orasinya.

Baca Juga: Rans Entertainment Buka Lowongan Kerja, Cek Syarat Dan Posisinya Didalam Sini

Sebagai perwakilan tokoh mahasiswa, dihadirkan Faris Nurul Yaqin, seorang aktivis Banten yang menyampaikan bahwa kunci dari pembangunan sebuah provinsi tidak hanya terletak pada pemerintahnya saja, yang menjadi kunci adalah masyarakatnya, melalui fungsi control sosialnya dan kolaborasi nya. 

"Tema HUT yang ke 22 ini adalah Banten tangguh, Ekonomi tumbuh. Ini adalah doa yang harus kita aminkan. Karena sebuah kolaborasi adalah sebuah keniscayaan untuk kemajuan suatu daerah. Kita harus terhubung, ber kolaborasi dan membuat sebuah perayaan untuk membangun provinsi Banten, provinsi kita tercinta," tegas Faris dalam orasinya. 

Kegiatan berjalan dengan kondusif dan lancar, dan berakhir saat tepat sebelum adzan maghrib.

Baca Juga: Komisaris Tidak Pegang Mandat, Direktur Pinbuk Banten Menilai Open Biding Bank Banten Langgar Etika Bisnis

Menarik kesimpulan dari seluruh peserta orasi yang hadir, seluruhnya menyampaikan pandangan soal Banten di usia 22 tahun masih belum memenuhi keinginan masyarakat pada umumnya. 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Febi Sahri Purnama

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

PWNU Banten Serukan Islah Terkait Konflik di PBNU

Selasa, 2 Desember 2025 | 15:24 WIB
X