"Saya banyak menemui di kalangan para ASN di provinsi Banten ini masih sangat banyak yang jual beli jabatan, ini seharusnya tidak boleh terjadi, karena dampaknya akan sangat buruk bagi pembangunan provinsi Banten, jauh dari kata profesional pada akhirnya, jika para pejabat kita masih berkutat pada urusan jual beli jabatan. Dan ini akan mengakibatkan pembangunan di provinsi Banten akan menjadi stagnan," kata uday dalam orasinya.
Di giliran berikutnya, Saprol, selaku Ketua Pokja wartawan provinsi Banten ikut angkat bicara. Ia menambahkan, kritik dan merasa tidak puas dengan pemimpin-pemimpin yang pernah memimpin provinsi Banten.
Lanjut Saprol, pembangunan yang tidak mengedapankan sense of cirisis, pria yang dikenal sebagai jurnalis kritis ini menyampaikan bahwa pembangunan Banten Internasional Stadium hanya menembah beban utang provinsi.
"Banten internasional stadium itu sangat membebankan APBD provinsi Banten, Bangunan yang di bangun dengan cara berhutang itu hanya menjadi bangunan yang sangat ekslusif dan tidak bisa dinikmati oleh masyarakat Banten secara umum, bahkan setelah bangunan itu jadi, setiap tahunnya provinsi Banten harus mencicil pembayaran hutang dari bangunan itu, ini menjadi beban yang sangat berat bagi provinsi Banten," jelas Saprol dalam orasinya.
Baca Juga: Masa Jabatan 2 Komisaris Bank Banten Berakhir, Ketua KAPT: Terjadi Kekosongan Jabatan
Lain lagi dengan pandangan seorang akademisi, Firman Hadiansyah, Akademisi Untirta dalam kesempatan orasinya menyampaikan nilai-nilai historis yang harus di refleksikan oleh provinsi di umur yang ke 22 ini.
Di dalam Babad Banten pupuh sinom 22 tertulis "gawe kuta baluwarti, bata kalawan kawis" yaitu membangun peradaban dari bata dan karang.
"Dalam kaca mata semiotika, bata merepresentasikan budaya agraris sementara karang simbol maritim. Artinya Babad Banten tersebut mengajarkan keseimbangan. Jadi pembangunan Banten tidak akan bisa berhasil jika tidak seimbang antara pembangunan agraris dan pembangunan maritim nya," kata pria yang belum lama dianugrahi ASN inspiratif nasional dalam orasinya.
Baca Juga: Rans Entertainment Buka Lowongan Kerja, Cek Syarat Dan Posisinya Didalam Sini
Sebagai perwakilan tokoh mahasiswa, dihadirkan Faris Nurul Yaqin, seorang aktivis Banten yang menyampaikan bahwa kunci dari pembangunan sebuah provinsi tidak hanya terletak pada pemerintahnya saja, yang menjadi kunci adalah masyarakatnya, melalui fungsi control sosialnya dan kolaborasi nya.
"Tema HUT yang ke 22 ini adalah Banten tangguh, Ekonomi tumbuh. Ini adalah doa yang harus kita aminkan. Karena sebuah kolaborasi adalah sebuah keniscayaan untuk kemajuan suatu daerah. Kita harus terhubung, ber kolaborasi dan membuat sebuah perayaan untuk membangun provinsi Banten, provinsi kita tercinta," tegas Faris dalam orasinya.
Kegiatan berjalan dengan kondusif dan lancar, dan berakhir saat tepat sebelum adzan maghrib.
Menarik kesimpulan dari seluruh peserta orasi yang hadir, seluruhnya menyampaikan pandangan soal Banten di usia 22 tahun masih belum memenuhi keinginan masyarakat pada umumnya.
Artikel Terkait
Jelang HUT Banten, HMI Beri Kartu Kuning 3 Tahun Kepemimpinan WH-Andika
HUT Banten ke-19, Walikota Cilegon Minta Pembangunan Tidak Hanya Fokus di Selatan
HUT Banten ke-19, Mahasiswa Minta Geothermal Hengkang dari Kabupaten Serang
PON XX Di Papua, KONI Banten Optimis Bawakan Medali Emas Untuk Kado Hut Banten Ke-21
Optimis Raih Emas, Imi Banten : Juara Balap Motor Untuk Kado Hut Banten Ke-21
Peringati HUT Banten ke-21, Menteri BUMN Gelar Erick Thohir Cup Bareng Wartawan
Dua Mahasiswa UIN Banten Diamankan Usai Lemparkan Kertas Rilis Saat Paripurna Istimewa HUT Banten