Penguat Silaturahmi, Makna Tradisi Layangan Bagi Masyarakat Kota Serang

photo author
- Jumat, 2 Oktober 2020 | 07:57 WIB
Lurah Taktakan, Erlinawati saat tengah memainkan layangan, di Kampung Cori, Kelurahan Taktakan, Kecamatan Taktakan, Kota Serang, Kamis(1/9/2020).
Lurah Taktakan, Erlinawati saat tengah memainkan layangan, di Kampung Cori, Kelurahan Taktakan, Kecamatan Taktakan, Kota Serang, Kamis(1/9/2020).

SERANG, TOPmedia - Ibu Kota Banten memaknai tradisi layang-layang sebagai penyambung silaturahmi antar masyarakat.

Bahkan tradisi layang-layang di Kota Serang kerap dijadikan ajang perlombaan. Salah satunya di Kampung Cori, Kelurahan Taktakan, selalu ramai dengan berbagai macam hiasan layangan.

Lurah Taktakan, Erlinawati mengatakan, kreativitas warga jadi semakin meningkat, dan tali silaturahmi pun tersambung.

Padahal, kata Erlinawati, pada situasi pandemi covid-19 semua aktivitas menjadi terhenti, dan komunikasipun terputus.

"Sejak tradisi layang-layang kembali dihidupkan, silaturahmi kembali terjalin. Namun tetap jaga jarak, dan menaati protokol kesehatan," ungkap Erlinawati tengah menerbangkan layangan, di Kampung Cori, Kelurahan Taktakan, Kecamatan Taktakan, Kota Serang, Kamis(1/9/2020).

Erlinawati juga mengakui, pada tahun inipun, kembali dibuka perlombaan layang-layang antar masyarakat di Kota Serang, berletak di Kampung Cori.

"Pendaftaraan via online dengan menggunakan nomor telephone, dan biaya sebesar Rp 30 ribu," jelasnya.

Erlinawati berharap, tradisi layang-layang inipun dapat terus berlangsung, sebagai penguatan untuk menyambung komunikasi antar masyarakat di Taktakan maupun Kota Serang.

"Sehingga bisa menjadi hiburan masyarakat yang murah meriah, dengan hadiah berkisar Rp 500 Ribu," tutup Erlinawati seraya mengakhiri wawancara.

Diketahui, tradisi layang-layang ternyata sudah sangat dikenal di Indonesia. Bahkan sangat kental pada kalangan masyarakat Sulawesi Tenggara, Jawa dan Bali.

Di Jawa dan Bali menerbangkan layangan merupakan sebagai bentuk berterimakasih pada Sang Pencipta.

Di Bali bahkan ada dewa layangan. Di Jawa dan Sumatera sama, layangan dilakukan setelah panen raya sebagai bentuk syukur. (Feby/Zai/Red).

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Administrator

Tags

Rekomendasi

Terkini

X