TOPMEDIA - Sejumlah negara di kawasan Asia kian bergantung pada pasokan minyak mentah dari Rusia di tengah krisis energi global yang dipicu konflik di Timur Tengah. Gangguan distribusi serta keterbatasan pasokan membuat pilihan energi semakin terbatas.
Analis senior minyak mentah Kpler, Muyu Xu, menyebut ketersediaan kargo menjadi tantangan utama dalam kondisi pasar saat ini.
“Masalah sebenarnya adalah berapa banyak kargo yang masih tersedia di pasar ini,” ujar Muyu Xu, dikutip dari Channel News Asia, Rabu (1/4/2026).
Baca Juga: Iran Serang Tel Aviv, Warga Berlindung di Tengah Eskalasi Konflik Usai Ancaman Donald Trump
Penutupan Selat Hormuz Picu Lonjakan Permintaan
Penutupan Selat Hormuz yang selama ini dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia memicu lonjakan permintaan energi, khususnya di Asia.
Situasi diperburuk oleh meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, serta gangguan distribusi oleh kelompok Houthi di kawasan Laut Merah.
Negara Asia Ramai Beralih ke Minyak Rusia
Negara seperti China, India, dan Turki sebelumnya telah menjadi pembeli utama minyak Rusia dengan memanfaatkan harga diskon di tengah sanksi Barat.
Kini, tren tersebut mulai diikuti negara Asia Tenggara seperti Filipina, Indonesia, Thailand, dan Vietnam yang menghadapi tekanan pasokan energi.
Filipina bahkan tercatat kembali mengimpor minyak mentah Rusia untuk pertama kalinya dalam lima tahun setelah menetapkan status darurat energi. Kondisi ini ditandai antrean panjang di stasiun bahan bakar serta rencana pembatasan konsumsi.
Rusia Siap Pasok Minyak ke Indonesia
Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Sergei Tolchenov, menyatakan kesiapan Moskow untuk memasok minyak dan gas bagi Indonesia jika dibutuhkan.