TOPMEDIA - Negosiasi maraton selama 21 jam antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung di Islamabad, Pakistan sejak Sabtu (11/4/2026) berakhir tanpa kesepakatan.
Kedua pihak saling menyalahkan atas kegagalan perundingan yang diharapkan mampu meredakan konflik berkepanjangan.
Seluruh delegasi dilaporkan telah meninggalkan Islamabad pada Minggu (12/4/2026). Pertemuan tersebut menjadi kontak langsung pertama dalam lebih dari satu dekade antara Washington dan Teheran, sekaligus pembicaraan tingkat tertinggi sejak Revolusi Islam 1979.
Perbedaan Tajam Soal Nuklir
Wakil Presiden AS, JD Vance, yang memimpin delegasi negaranya, menyatakan bahwa kegagalan kesepakatan lebih merugikan Iran.
“Kami belum mencapai kesepakatan, dan itu merupakan kabar buruk bagi Iran, lebih besar dibandingkan bagi Amerika Serikat,” ujar Vance sebelum meninggalkan Pakistan.
Menurut Vance, salah satu titik krusial yang tidak menemukan titik temu adalah tuntutan Washington agar Teheran menghentikan pengembangan senjata nuklir.
Pernyataan tersebut juga telah dikomunikasikan kepada Presiden Donald Trump sebagai bahan pertimbangan langkah berikutnya.
Di sisi lain, pemerintah Iran menilai syarat yang diajukan tidak realistis dan mengabaikan kepentingan nasional mereka.
Baca Juga: 70 Persen Venue Banten Lolos Verifikasi, Siap Dukung PON XXIII 2032 dan Perkuat Ekosistem Olahraga
Dilema Strategis Pemerintah AS
Kegagalan ini menempatkan pemerintahan Trump pada situasi sulit. Opsi yang tersedia dinilai sama-sama berisiko, yakni melanjutkan negosiasi panjang terkait program nuklir Iran atau kembali pada eskalasi konflik bersenjata.
Konflik tersebut sebelumnya telah menimbulkan dampak besar, termasuk lonjakan harga energi global serta ketegangan di Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak dunia.